Sedikit kisah tentang tawuran pelajar di Ibu kota.
Tawuran akan hilang bila ada kerjasama
dari semua pihak. Mereka yang tawuran sering kali bingung menjawab
kenapa mereka bisa menjadi seperti itu. Alasannya, karena soladiritas
dengan temannya yg satu sekolah. Ketika sekolah mereka diserbu oleh
sekolah lain, tentu harus mempertahankan diri.
Tapi bukan
itu inti maslahnya. Kurangnya pendidikan agama dalam keluarga menjadi
sesuatu yg harus dipikirkan oleh para orang tua dan guru.
Rasanya saya harus berkata, bahwa tenaga
anak muda itu besar, dan kalau tidak disalurkan akan berakibat negatif
seperti tawuran. Solusi paling efektif adalah menambah kegiatan-kegiatan
positif di lingkungan rumah dan sekolah seperti main bola, ikut ekskul,
dan la masih banyak lainnya.
Sedih sekali melihat anak muda kita
saling membunuh. Tawuran antar pelajar menjadi keprihatinan kita
bersama. Mengapa mereka bisa tawuran? Apakah penyebabnya? Mengapa yang
mati justru mereka yang tidak ikut tawuran? Mengapa anak sekolah membawa
senjata tajam, dan bukan buku?
Sejuta tanya dalam benak saya sebagai
seorang pendidik. Sedih rasanya melihat peserta didik kita terluka
akibat tawuran. Hal yang lebih sedih lagi, bila peserta didik kita mati
akibat tawuran. Padahal, tidak sekalipun anak itu ikut tawuran. Hanya
saja, takdir Allah merenggut nyawanya menjadi korban tawuran.
Jangan salahkan mereka, dan jangan juga
kita saling menyalahkan. Mari kita menyikapinya dengan bijak. Setiap
kita tentu pernah mengalami yang namanya sekolah. Tempat berkumpul anak
bangsa untuk mewujudkan cita-citanya. Merekapun berharap lulus dari
sekolah dengan berbekal pengetahuan, keterampilan, dan tentu saja budi
pekerti yang luhur.
Namun sayang, tujuan bersekolah itu tak
terlihat lagi. Berbagai media menyoroti tawuran antar pelajar. Sedih
sekali melihat mereka berkelahi. Sesama anak bangsa saling berkelahi.
Kita lihat, cuma hanya karena persoalan kecil, celurit keluar dari
sarangnya. Seolah lupa, bahwa hidup hanya sekali saja. Kalah jadi abu,
menang jadi arang. Tak ada yang diuntungkan dari tawuran. Semua pihak
mengalami kerugian.
Orang tua menyekolahkan anak agar mampu
mandiri, menjadi manusia terampil, dan kelak mampu bekerja dengan minat
dan keahliannya. Tentu mereka akan kecewa bila melihat anaknya terlibat
tawuran, dan menjadi korban tawuran antar pelajar. Kalau saya adalah
orang tua yang mengalaminya, tentu akan kecewa, dan marah dengan
kelakuan anak sendiri. Tapi, apakah marah dapat menyelesaikan persoalan
anak kita?
Anak kita pada dasarnya adalah anak yang
baik. Lingkunganlah yang membuat dirinya tidak baik. Bisa di lingkungan
rumah, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Semuanya bisa saling terkait
karena manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Tak
ada manusia yang sanggup hidup sendiri.
Persoalannya adalah mengapa tawuran
pelajar harus terjadi? Tidak adakah rasa saling cinta mencintai, dan
rasa saling sayang menyayangi di antara sesama manusia? Tak adakah
pengamalan dari sila kedua pancasila, kemanusian yang adil dan beradab?
Pasti ada yang salah dalam pendidikan
anak kita. Mulai dari pendidikan dalam keluarga, sekolah, dan
masyarakat. Hal yang pasti, belum banyak orang tua yang menjalankan
tugasnya dengan baik. Belum banyak guru yang mampu menjadi tauladan buat
anak didiknya. Sehingga omongannya di dengar, dan mereka akan menjauh
dari tawuran antar pelajar. Guru dan orang tua belum mampu menjadi
idola mereka.
Minimnya keteladanan dari tokoh
masyarakat, membuat para remaja akhirnya mengidolakan tokoh-tokoh lain
yang membuat kita tak percaya kalau mereka memang telah menjadi
followernya. Idola mereka tidak lagi ayah dan ibunya. Idola mereka tidak
lagi bapak dan ibu gurunya. Idola mereka adalah para artis hebat yang
membuat mereka tergila-gila dibuatnya. Kita akan termehek-mehek bila
melihat mereka bertemu dengan idola mereka. Seperti makhluk yang bertemu
dengan penciptaNya.
Dunia remaja adalah dunia yang penuh
dengan pesona. Potensi unik, dan tenaga mereka sungguh luar biasa. Bila
salah dalam mengarahkannya, mereka akan menjadi preman yang kejam, dan
tak peduli dengan sesama.
Pengalaman menjadi seorang pendidik, bila anak sekolah waktunya sudah habis untuk kegiatan di sekolah, baik intra kurikuler mapun kegiatan ekstrakurikuler, pastilah anak itu menjadi baik. Potensi unik mereka akan tersalurkan dengan baik sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Tak akan pernah terpikirkan untuk tawuran, karena hobi dan minat mereka sudah tersalurkan. Merekapun akan berpikir 2 kali untuk melakukan tawuran, karena hanya merepotkan diri sendiri.
Pengalaman menjadi seorang pendidik, bila anak sekolah waktunya sudah habis untuk kegiatan di sekolah, baik intra kurikuler mapun kegiatan ekstrakurikuler, pastilah anak itu menjadi baik. Potensi unik mereka akan tersalurkan dengan baik sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Tak akan pernah terpikirkan untuk tawuran, karena hobi dan minat mereka sudah tersalurkan. Merekapun akan berpikir 2 kali untuk melakukan tawuran, karena hanya merepotkan diri sendiri.
Sewaktu penulis menjadi pelajar STM
(sekarang SMK) dahulu, banyak pelajar yang sudah terlibat tawuran.
Tawuran terjadi biasanya usai pulang sekolah. Kami harus bertahan karena
diserang tiba-tiba dari sekolah lain. Kalau sudah begitu, tak ada jalan
lain kecuali melawan dengan cara kesatria. Cuma sayangnya, banyak
diantara mereka yang membawa batu, kayu, dan senjata tajam. Kalau sudah
begitu, ambil langkah seribu menjadi pilihan favorit. Sebab menang
melawan mereka pun tiada gunanya. Hanya membuang waktu percuma, dan
melukai diri saja. Biarlah mereka berkata kami pengecut. Kalah untuk
menang jauh lebih berarti daripada kami harus berkelahi.
Untunglah saya bertemu dengan para guru
tangguh berhati cahaya. Di sekolah kami di doktrin untuk tidak tawuran.
Kalau terpaksa harus tawuran karena diserang, kami lebih baik mengambil
sikap mundur. Beberapa guru tampil untuk mencari solusi damai. Sekolah
kami pun akhirnya damai dan tentram. Tak ada tawuran di sekolah kami
selama saya bersekolah di sekolah itu. sampai saat inipun saya tak
pernah mendengar ada tawuran di sekolah saya dulu yang kini menjadi SMKN
5 Jakarta.
Di sekolah lain bahkan diterapkan
peraturan. Siapa saja siswa yang telibat tawuran, maka sanksinya adalah
dikeluarkan dari sekolah. Sepintas terlihat kejam, tapi hasilnya
dahsyat. Tak ada satupun siswa yang mau tawuran antar pelajar. Kalaupun
ada, hanya perkelahian kecil saja antar sesama siswa. Tak menjalar ke
sekolah lain sehingga menyebabkan tawuran.
Pak dedi dwitagama kepala SMKN 29
Jakarta, sudah mempraktekkannya di sekolah SMKN 29 yang dipimpinnya. Tak
ada anak yang berani tawuran, karena sanksinya dikeluarkan dari
sekolah. Kepala sekolah harus tegas, dan membuat aturan di tahun ajaran
baru. Merekapun sebagai pelajar harus tanda tangan dengan materai 6000
sebagai bukti perjanjian mereka dengan sekolah. Bila melanggar, cukup
diperlihatkan saja perjanjian yang sudah mereka tanda tangani. Dari sisi
hukum sekolah menang, dan tak ada lagi siswa yang berani tawuran apapun
alasannya.
Di sekolah Labshool Jakarta tempat
penulis mendidik anak bangsa, tak ada perjanjian siswa dikeluarkan dari
sekolah karena tawuran pelajar. Namun kami fokus dengan pendidikan karakter yang
sudah masuk dalam budaya sekolah kami. Iman, ilmu, dan amal bukan hanya
slogan semata. Semua itu diterapkan dalam kegiatan akademis dan non
akademis. Alhasil, sekolah kami tak pernah telibat tawuran antar pelajar
sekolah lain. Kalaupun ada terjadi, itu semua sudah diantisipasi oleh
para wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.
Tawuran pelajar terjadi, karena anak
belum menemukan potensi unik dalam dirinya. Akhirnya, potensi itu
menjadi liar dan tak terkendali. Akibatnya, anak merasa menjadi jagoan,
dan tak ada orang lain yang lebih jago darinya. Bila guru tak mampu
menjadi pemandu untuk anak-anak ini, maka berakibat mereka tak menemukan
minat dan bakatnya. Pada akhirnya, kenakalan remaja yang terjadi.
Mereka merasa tidak puas dengan keadaan di sekelilingnya. Bila itu
terjadi, sekolah menjadi beban buat mereka, dan bukan tantangan untuk
meraih manisnya ilmu. Sekolah tak ubahnya seperti hutan belantara,
dimana yang kuat dia yang berkuasa. Padahal seharusnya, sekolah menjadi
peradaban ilmiah karena ada suasana menyenangkan di rumah keduanya.
Sekolah harus menjadi rumah kedua buat peserta didik kita.
Akhirnya, tawuran pelajar yang menyedihkan harus kita sikapi dengan
bijaksana. Semua anak adalah juara, dan guru di sekolah harus mampu
mengembangkan potensi unik mereka. Para orang tua harus lebih
memperhatikan buah hatinya, dan harus mampu menjadi idola buat
putra/putrinya. Bila anak bangga dengan kedua orang tuanya, maka diapun
akan bangga dengan dirinya yang melahirkan prestasi dari apa yang
diminatinya."menjadi nakal dan bandel itu boleh tapi jangan jadi jahat"

Comments
Post a Comment